our wedding...

"Let this be our destiny, to love, to live, to begin each new day together, to share our lives forever"

Monday, November 01, 2004

friend, love and joy

the party



after ceremony

the beginning of forever

Saturday, September 25, 2004, The Mezzanine, Hyatt Aryaduta

Thursday, September 30, 2004

behind the scene...

Tanpa terasa waktu cepat sekali terlewati, tanpa terasa hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Senang? Tentu saja, akhir nya segala kepusingan ngurus tetek benget pernikahan berakhir juga. Phew.... leganya.

1. Yang pasti, hari Sabtu tanggal 25 September 2004 kami menikah, mengikat janji sehidup semati (Insya Allah) dihadapan Tuhan dan dihadapan orang tua, keluarga, sahabat-sahabat terdekat dan tentu saja penghulu.
2. Berarti, setelah hari itu kami akan selalu sama-sama dalam susah dan senang.
3. Keluarga kami akan bertambah besar karena dua keluarga menjadi satu.
4. Segala kepusingan mengurus pernikahan akan berakhir. Mungkin hal ini yang sebenarnya harus dimasukkan keurutan pertama.

Kami bersyukur kepada Tuhan karena semua persiapan berjalan lancar, nggak ada selisih pendapat diantara dua keluarga dalam urusan persiapan dan konsep acara pernikahan. Kami bersyukur karena kami dibesarkan ditengah-tengah keluarga yang teramat sangat simpel, yang dua-duanya tidak menuntut kami harus melaksanakan upacara ini itu serta tetek bengek kehebohan upacara adat yang umumnya dilakukan oleh kebanyakan suku-suku di Indonesia.

Bukannya kami tidak menghargai warisan nenek moyang yang memiliki adat istiadat dalam melaksanakan upacara pernikahan, akan tetapi kami memilih mengambil maknanya saja. Pernikahan tidak dilakukan besar-besaran dengan mengundang orang-orang yang tidak kami kenal, atau kami sebagai pengantin juga tidak mau dipajang dipanggung sambil menunggu para tamu menyalami kami. Simpelnya, kami pengen pesta syukuran yang relax dan santai.

Pada hari H-nya, pagi-pagi aku dan keluarga sudah bersiap-siap untuk berangkat ke Aryaduta, karena janji dengan mas Yudin, perias pengantin jam 11-an. Sampai di Aryaduta aku langsung ketemu sama Roy yang masih ngorok dengan sahabatnya Husref. Wahhh..., calon pengantennya kok santai bener sihhh.

Sambil nunggu mas Yudin datang, aku keliling-keliling. Cek-cek keluarga dikamar yang lain. Ketemu sama keluarga Roy yang lagi asik-asik dandan. Sementara aku sempet duduk-duduk dan ngobrol dengan mereka. Beberapa jam sebelum acara pernikahan, aku masih sibuk telpon-telpon semua vendor, mulai dari kue penganten, dekor, baju penganten. Mereka sempet kaget karena udah detik-detik terakhir pengantennya masih sempet update keberadaan mereka.

Lhooo..., gimana sih, namanya juga penganten koboi, ya semua harus diurus sendiri. Acara dandan nggak memakan waktu lama, salut buat mas Yudin, karena aku paling nggak suka lama-lama berdandan, sekalipun untuk acara pernikahan sendiri. Prinsipku, semua harus serba praktis dan simpel. Wanti-wanti ama dia kalo aku gak mau didandanin menor kayak topeng. Dengan 1 asisten dia bisa selesaikan make-up untuk akad nikah kurang lebih 1 jam.

Beres deh... ehh, kenapa Erdan nggak nongol-nongol juga ya? Erdan yang bikinin baju-baju aku dan Roy dan dia masih on the way ke Aryaduta. Duhhhh..., stress banget deh. Last minute dateng juga. Laras ikut sibuk bantu ini dan itu. Alhasil semua berjalan sesuai rencana.... seneng dan lega rasanya.

Terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah direpotkan sama urusan pernikahan kami. Tanpa dukungan seluruh pihak kelurga dan sahabat nggak mungkin rasanya acara tersebut berjalan lancar tanpa hambatan yang berarti. Amin... amin.

Titien & Roy Ibrahim Anniversary
Daisypath Ticker